Aysun
menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi walaupun jalan menuju ke peternakan
sangat terjal dan lumayan berkelok melewati sawah sawah dengan rumput hijau
yang menjulang tinggi. Kesan pertama saya saat bertemu Aysun adalah sorang ibu
yang cantik, ramah dan murah senyum. Selama perjalanan menuju guest house, Aysun menceritakan siapa
saja volunteer yang ada di peternakan saat ini, terlihat jika dia sangat
terkesan dan kagum dengan Moth, volunteer dari Kanada yang akan menjadi teman
sekamar saya. Saya menceritakan perjalanan saya yang memakan waktu hamper 24
jam dan alasan mengapa saya membawa koper sebesar itu. Sesampainya di guest
house Aysun menunjukan kamar tidur saya. Kamar tidurnya sempit, dengan dua
kasur, satu lemari dan kamar mandi. Lalu Aysun memperkenalkan saya kepada Talbot,
Nicola, dan Tatsuya.
Di
bawah ini adalah gambar guest house yang ditempati para volunteer.
Setelah mandi, saya bersama Talbot, Nicola, dan Tatsuya berjalan menuju rumah Aysun untuk makan malam bersama. Setibanya di rumah Aysun saya melihat meja makan besar yang penuh dengan hidangan ala Turki (ada sarma, mercimek, borek, dan bayak lagi) serta gelas yang berisi wine merah, namun untuk saya cukup air soda saja. Masakan Aysun sangat lezat, sepertinya memang semua wanita Turki itu pintar memasak. DI saat makan malam saya bertemu dengan Moth dan Mathilde yang menghabiskan sore tadi di dapur Aysun untuk membantu menyiapkan makan malam. Saya duduk di sebelah Mehmet, suami Aysun, selain menjalankan usaha peternakan bersama Aysun, Mehmet juga seorang guru musik di Istanbul kota. Kesan pertama saya, Mehmet itu orangnya ramah, namun dia agak jarang tersenyum, santai, dan pendiam, saya rasa mereka adalah pasangan yang sangat romantis dan saling melengkapi.
Setelah mandi, saya bersama Talbot, Nicola, dan Tatsuya berjalan menuju rumah Aysun untuk makan malam bersama. Setibanya di rumah Aysun saya melihat meja makan besar yang penuh dengan hidangan ala Turki (ada sarma, mercimek, borek, dan bayak lagi) serta gelas yang berisi wine merah, namun untuk saya cukup air soda saja. Masakan Aysun sangat lezat, sepertinya memang semua wanita Turki itu pintar memasak. DI saat makan malam saya bertemu dengan Moth dan Mathilde yang menghabiskan sore tadi di dapur Aysun untuk membantu menyiapkan makan malam. Saya duduk di sebelah Mehmet, suami Aysun, selain menjalankan usaha peternakan bersama Aysun, Mehmet juga seorang guru musik di Istanbul kota. Kesan pertama saya, Mehmet itu orangnya ramah, namun dia agak jarang tersenyum, santai, dan pendiam, saya rasa mereka adalah pasangan yang sangat romantis dan saling melengkapi.
Setelah
makan malam, kami pulang ke guest house dan tiba-tiba ada anjing besar yang
mengikuti kami dari belakang. Anjing milik Aysun itu bernama Mıtat, awalnya
saya takut dengan anjing tapi kemudian Rosana, volunteer dari Inggris yang datang
di hari kedua saya bekerja di sini, mengajarkan saya untuk tidak takut dan mengusap
kepala si Mıtat. Sejak saat itu saya tidak lagi takut dengan anjing bhakan saya
jadi suka memanggil dan mengusap kepala Mıtat.
Mengenai
system makan di sini, setiap dua hari dalam seminggu Aysun akan mempersilahkan
para volunteer untuk makan malam di rumahnya, jadi selama 5 hari para volunteer
bergilir menyiapkan sarapan dan makan malam di guest house untuk dimakan
bersama di meja makan. Aysun memberikan uang belanja setiap minggunya dan para
volunteer bergilir pergi ke pasar dan super market untuk membeli bahan makanan
selama seminggu. Untuk makan siang adalah masakan catering yang diantar ke
kantor peternakan, jadi para volunteer makan di kantor bersama seluruh pekerja
di peternakan.
Dahulunya
peternakan ini terjangkit bakteri yang membuat hampir semua sapi harus di
bunuh, hanya tersisa beberapa sapi yang kemudian dicuri. Aysun kembali
membangun peternakanya, dan kini peternakan ini sukses meraih banyak
penghargaan karena kebersihan dan kesehatan sapi-sapi di sini. Aysun memang
sangat memperhatikan kebersihan kandang serta kebahagiaan ternak, ia
memperlakukan sapi-sapi perah ini seperti manusia yang tidak boleh di perlakukan
kasar. Ada dua jenis sapi di sini, yaitu Fleckvieh (coklat putih) dan Holstein
(hitam putih).
Volunteer
diharapkan untuk bekerja selama 8 jam per hari dan mendapat satu hari libur
setiap minggu. Untuk volunteer, ada dua shift yaitu pagi dan malam. Untuk shift
pagi dimulai pukul 06.00 – 08.00, kemudian kembali lagi ke peternakan pukul
10.00 – 16.00. Shift malam dimulai pukul 10.00 – 18.00. Para volunteer tidak
boleh pulang ke guest house sebelum jam yang sudah ditentukan. Jam enam pagi tugas
volunteer yang mendapat shift pagi adalah menggiring sapi ke tempat pemerahan,
sebelum itu bisa ke kantor terlebih dahulu untuk minum teh. Saat sapi sedang
diperah susunya, para volunteer membersihkan kandang sapi dari kotoran yang
sudah membanjiri kandang.
Sapi-sapi
perah ini dibagi mejadi dua golongan dengan tempat yang terpisah sesuai dengan
rentan usia seperti gambar di bawah ini, sapi-sapi di sebelah kanan ini lebih
muda bandingkan dengan yang sebelah kiri.
Setelah
kandang bersih dan sapi selesai diperah, tugas volunteer adalah menggiring
sapi-sapi kembali ke kandang yang sudah bersih. Jika ada lebih dari dua
volunteer, maka volunteer yang lain akan membantu pekerja peternakan bernama
Ozkan yang ada di tempat pemerahan susu sapi. Ozkan yang juga tinggal di guest
house bertugas menjaga peternakan semalaman suntuk dengan senapanya dan
mengoperasikan pemerahan susu di pagi hari. Volunteer yang sudah handal bisa
membantu memasangkan alat pemerah namun bagi pemula cukup membantu membersihkan
puting-putting si sapi dengan antiseptik sebelum pasangi alat pemerah. Jika pemerahan
susu sudah selesai, volunteer membantu membersihkan tempat pemerahan. Susu yang
diperah akan secara otomatis disalurkan kedalam sebuah tangki pendingin.
Gambar
di bawah ini adalah tempat pemerahan susu, ada Moth dan Ozkan yang sedang sibuk
memasang alat pemerah.
Ini
adalah gambar tangki pendingin yang digunakan untuk menampung susu dari tempat
pemerahan.

Tugas
selanjutnya adalah memberikan susu ke anak-anak sapi yang dipisahkan dari induknya
dan masing-masing nank sapi ditempatkan di rumah kecil berwarna hijau. Susu
diambil dari tangki pendingin untuk ditempatkan di semacam kontainer beroda,
disebut taxi yang dilengkapi dengan
mesin pemanas. Kontainer dibawa ke dapur dan susu dihangatkan hingga suhu
tertentu, ini sangat penting agar anak sapi tidak terkena diare. Setelah
hangat, susu dimasukan ke dalam botol besar yang ditutup dot. Kemudian saatnya
memberikan botol-botol susu kepada anak sapi yang usianya baru beberapa hari
atau minggu, saat anak sapi minum susus, botol susus harus dipegangi dengan
benar. Untuk anak sapi yang berusia 1-2 bulan, susu akan di tempatkan ke dalam ember
yang bawahnya dipasang dot (lihat gambar dibawah).
Ini
adalah gambar saat anak-anak sapi sedang minum susu, terlihat rumah-rumah anak
sapi yang dilengkapi sepasang kotak hijau kecil di depan rumah untuk tempat air
dan jerami.


Sesudah
semua beres, maka botol-botol dan ember-ember susu dibawa ke sebuah ruang untuk
dibersihkan dengan air panas. Di bawah
Ini adalah gambar ruang tempat membersihkan dan menaruh botol dan ember.

Setelah
itu, saatnya volunteer shift pagi mengambil roti-roti yang dibawakan Zeynel
(pegawai tetap di kantor) setiap pagi dan mengambil susu dari tangki pendingin
untuk dibawa pulang ke guest house. Volunteer yang mendapat shift malam
menyiapkan sarapan dan menunggu volunteer shift pagi pulang ke guest house
dengan roti dan susu, kemudian semua volunteer sarapan bersama. Menu sarapan di
guest house adalah roti, aneka selai, yogurt, buah, susu, buah zaitun,
terkadang ada yang membuatkan omlet, pancake atau oatmeal. Setelah sarapan,
volunteer bisa bersantai sejenak, menonton TV atau bersiap-siap untuk pergi ke
peternakan pukul 10.00.
Pukul
10.00 semua volunteer diharapkan sudah berada di peternakan. Kegiatan di pagi
hari adalah memberi makan dan air anak-anak sapi di rumah hijau, membersihkan
kandang anak-anak sapi (usia > 2 bulan) yang berbentuk setengah lingkaran
berwarna putih seperti igloo. Anak sapi yang berusia diatas 2 bulan ditempatkan
di alam terbuka seperti gambar di bawah
ini.

Kantong-kantong
biru besar yang ada di gambar adalah simpanan rumput-rumput hijau yang dikumpulkan
saat musim panas. Makanan sapi dibedakan sesuai dengan usia. Usia 0-2 bulan
diberikan jerami yang sangat halus dan juga biji semacam vitamin mungkin. Usia
3-6 bulan diberikan jerami yang agak kasar dan juga biji. Sapi remaja, hamil
dan ibu sapi diberikan jerami biasa.
Kegiatan
selanjutnya adalah membersihkan kandang sapi remaja. Sapi remaja yang berusia 6
hingga 15 bulan ditempatkan di tempatkan di kandang yang berbeda. Di rentang
usia 12 hingga 15 bulan, jika sapi remaja ini menjadi agresif dan suka
menindihi pungung sapi yang lain, maka itu adalah tanda-tanda sapi telah siap
untuk di inseminasi atau di suntik kawin. Gambar di bawah ini adalah kandang
sapi remaja.

Selain
itu, ada juga kandang khusus untuk sapi yang hamil tua dan sapi yang sedang
sakit.
Jerami-jerami
yang ada di kandang sapi ini didistribusikan dengan truk. Jerami di peternakan
ini diolah dengan mesin besar yang berada di dalam ruangan tersendiri seperti
gambar di bawah ini.

Selesai
membersihkan kandang sapi remaja, saatnya mendorong jerami di kandang sapi
perah. Saat sapi sedang makan, mereka akan membongkar tumpukan jerami sehingga
jerami terdorong menjauhi kandang, maka jerami harus didekatkan kembali ke
kandang agar mudah di jangkau kepala sapi. Di bawah ini adalah gambar sikat
yang saya gunakan untuk mendorong jerami mendekati kepala sapi.

Jika
tidak ada lagi jerami yang perlu didorong, saatnya menyisir badan sapi. Kata
Aysun, sapi yang disisir akan merasa senang dan itu akan mempercepat kesiapan
sapi untuk di inseminasi. Aysun mempersilahkan para volunteer untuk menyisir
sapi sambil mengajak bicara atau menyayikan lagu untuk mereka, dia benar-benar
mencintai sapi-sapi ini. Kegiatan menyisir sapi adalah favorit saya memang,
sayapun tak jarang mengobrol dengan sapi-sapi itu. Bahagia ketika melihat sapi
yang saya sisir berjalan mengikuti saya karena dia ingin saya terus menyisir
badanya, dia bisa cemburu ketika saya menyisir badan sapi yang lain, manis
sekali ya sapi-sapi ini. Gambar di bawah ini diambil ketika saya menyisir sapi.


Volunteer
bisa beristirahat ke kantor untuk minum teh kapan saja, tidak ada larangan.
Makan siang dilakukan di kantor bersama dnegan pekerja lain. Gambar di bawah
ini adalah suasana ruang istirhat dan sekaligus ruang makan di kantor.


Berikut
ini adalah potret makan siang pada suatu hari. Gambar sebelah kiri adalah çorba (sup) yang dimakan dengan ekmek (roti) yang dicelupkan. Gambar
sebelah kanan adalah pilav (nasi),
patates (kentang), dan tavuk (ayam).


Setelah
makan siang, volunteer bisa kembali membantu para pekerja untuk mengolah
jerami, memngemas susu kedalam botol untuk dikirimkan ke kota, mendorong
jerami, atau menyisir sapi. Selama seminggu disana, hanya sekali saya bertugas
membantu dua ibu-ibu pekerja di peternakan yaitu Camile dan satunya lagi saya
lupa namanya.
Volunteer
bisa kembali ke guest house pukul 16.00 sore kecuali yang kebagian shift malam
untuk membantu pemerahan, membersihkan kandang, dan memberi susu anak sapi
hingga pukul 18.00. Volunteer yang kebagian shift pagi menyiapkan makan malam
di guest house. Menu makan malam bervariasi setiap hari tergantung siapa yang
memasak, dua hal yang pasti ada adalah salad dan susu. Terkadang kami juga
makan kelebihan makananan di kantor atau di rumah Aysun yang dibungkus rapi dan
disimpan di kulkas. Suatu hari Nicola
membuat salad yang dicampur jeruk dan diparuti keju, ternyata rasanya enak
juga. Ini adalah gambar salad ala Nicola bersama orangnya.


Talbot
pernah bereksperimen mebuat irisan kentang yang di balur dengan entah apa lalu
di oven, rasanya lumayan, untuk penampkan kentang panggang ala Talbot ini bisa
dilihat pada gambar di bawah ini.

Suasana
makan malam selalu menyenangkan, selalu ada obrolan mengenai banyak hal. Saya
beruntung menghabiskan seminggu di peternakan ini dengan teman-teman yang
menyenangkan. Di bawah ini adalah potret dari kebersamaan kami di guest house
saat makan malam.

Sebenarnya
ada lagi dua volunteer lain yang datang di hari ketiga saya disana, yaitu
seorang wanita Turki dan laki-laki India, mereka adalah sepasang kekasih, tapi
saya dan teman-teman lain tidak pernah mengobrol dengan mereka, karena mereka
sibuk merencanakan entah proyek apa dengan Aysun.
Satu
hari sebelum meninggalkan peternakan, saya ikut si Talbot untuk belanja
mingguan ke pasar tradisional. Pasar
tradisional di Turki sangat bersih, para pedagang berpakaian rapi bahkan ada
yang memakai jas, ada papan harga yang ditancapkan di atas dagangannya, ah saying
saya tidak membawa kamera. Di pasar ini saya membeli kacang almond setengah
kilogram.
Sekarang
saya ingin menuliskan kesan saya terhadap teman-teman volunteer di sini.
Rosana
atau Resie, berasal dari UK. Dia adalah vegetarian karena rasa kasihanya terhadap
hewan. Resie ini murah senyum dan sangat lemah lembut saat berbicara. Dia jago
memasak dan saya paling suka mendengarkan aksen Britishnya. Sebelumnya dia pernah menjadi volunteer di Spanyol
(kalau tidak salah), tepatnya dia membantu mengurus keledai-keledai yang
sakit.
Talbot
berasal dari USA, berpostur tinggi, rambut keriting, dan wajah klasik. Dia
ramah, dewasa, murah senyum, dan selalu memulai topik pembicaraan yang menarik. Talbot sudah lama menjadi volunteer
di sini. Saya senang bekerja dengan Talbot, karena dia selalu mengajarkan saya
hal baru dan menceritakan tentang
peternakan, sapi-sapi, dan hal menarik lainya.
Nicola
datang dari Kanada, pemuda luwes dan lembut, dengan rambut ikal sebahunys ia
terlihat menawan. Terkadang saya iri dengan Nicola, karena gestur bicara saya
tidak selembut dia. Dia masih sangat muda, masih suka bermain-main dan
terkadang mudah terbawa emosi. Dia baru seminggu tinggal di peternakan,
sebelumnya dia telah berwisata ke Eropa.
Tatsuya
pernah bercerita bahwa dia dipanggil Uci di Jepang, tapi saya lebih suka
memanggilnya Tatsuya walaupun namanya yang paling terakhir saya hafal diantara
yang lain. Dia adalah volunteer dari Jepang, kemampuan berbicaranya dalam
Bahasa Inggris sangat kurang, yah ini seperti yang disinggung dosen saya bahwa
biasanya orang Jepang itu sempurna dalam hal memahami dan menulis sesuatu dalam
Bahasa Inggris, namun sangat lemah dalam urusan berbicara. Tatsuya ini pemuda
yang sangat ramah, selalu tersenyum dan bahagia. Dia bercerita bahwa dia meninggalkan
pekerjaanya untuk berkeliling dunia, dia bahkan mengajak ibunya ke beberapa
Negara. Ada satu pengalaman Tatsuya yang sangat menarik, yaitu ketika dia
berada di Palestina ia menyaksikan ledakan bom yang sangat amat dekat denganya,
beruntung ia selamat. Tatsuya ini sangat pintar memotret layaknya fotografer
profesional, hasil jepretanya sangat amat bagus terlebih lagi gambar tersebut
diambil dari berbagai belahan dunia. Dia mengajarkan saya bagaimana teknik
mengambil gambar agar terlihat bagus. Walau sering kesulitan mengungkapkan
kata-kata, Tatsuya adalah lawan bicara yang menyenangkan.
Moth,
si gadis cantik berambut pirang kriting ini berasal dari Kuba. Dia orangnya
terlihat serius, Moth ini sudah cukup lama di sini, dulu ia pernah volunteer di
sini bersama dengan pacarnya, lalu dia kembali lagi ke peternakan ini sendiri.
Moth ini pernah bercerita bahwa dia adalah anak tunggal yang sudah diajak
travelling ke beberapa Negara sejak ia kecil. Saat sudah dewasa, ia bekerja di
restoran dan mengumpulkan uang untuk travel. Sebelumnya Moth menjadi volunteer
di Maroko, ia sempat bercerita pengalamanya. Dia selalu semangat bangun pagi
dan bergegas melakukan pekerjaan di peternakan, kadang saya dibangunkan Moth
saat saya kebagian shift pagi.
Semua
pekerja di sini berbahasa Turki, sehingga sayapun menggunakan bahasa Turki yang
ala kadarnya dan bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan mereka. Saya suka
sekali mengobrol dengan Ozkan saat di guest house, dia selalu mengajak saya
berbicara bahasa Turki. Ozkan adalah orang Turki paruh baya keturunan Bulgaria
yang tinggal di guest house. Dia memang sedikit aneh (seperti gangguan mental)
tapi menurut saya, dia itu lucu dan baik, dia bahkan memberikan saya baju untuk
kenang-kenangan setelah saya memberikan dia gantungan kunci dari Singapore,
yang juga saya berikan kepada teman-teman volunteer yang lain.
Selain
Ozkan yang tinggal di guest house, ada juga Methilde. Methil dulunya adalah
volunteer di sini, namun saat saya disana, ia sudah satu setengah menadi
pekerja tetap di peternakan ini. Mathilde adalah orang Perancis, saya tidak
banyak berbicara denganya namun yang saya ingat adalah aksen Frenchnya yang kentara saat berbicara.
Pekerja yang lain yang selalu dibicarakan para
volunteer adalah adalah Tarik. Kata Aysun dan teman-teman yang lain, dia ini
adalah pemabuk dan sukanya teriak-teriak, intinya dia ini emosional.
Teman-teman volunteer selalu bermuka masam jika harus bekerja dengan Tarik.
Suatu hari saya kebagian membantu Tarik di tempat pemerahan susu. Ternyata
Tarik baik kepada saya, bahkan saat saya salah, dia malah mengajarkan saya
dengan senyum.
Sekilas
tentang kepercayaan masyarakat Turki mengenai jimat anti setan yang berbentuk
satu bola mata berwarna biru. Jimat ini di dalam Bahasa Inggris disebut Evil Eye. Di kantor peternakan ini ada
satu jimat Evil Eye yang dipasang di luar, bisa di lihat di gambar berikut ini.

Di
malam sebelum saya pulang, kami makan di rumah Aysun. Aysun baru dating dari
kota dan membawakan mie yang dibungkus kotak dari restoran temanya di Istanbul.
Inilah suasana makan malam di rumah Aysun.

Tanggal
11 Mei pagi, saya diantar Aysun ke stasiun bis. Saat saya membeli tiket, Cemile
dating membawakan jaket saya yang ketinggalan di mobil Aysun. Lalu, sayapun
naik bus menuju terminal bis di Istanbul untuk selanjutnya naik bus ke Bursa.
No comments:
Post a Comment